Akhir-akhir ini saya suka tergelitik campur heran apabila menonton sebuah iklan salah satu produk makanan di televisi. Iklan yang saya maksud adalah sebuah iklan mi instan, kita sebut saya merk mi instannya dengan “mi instan X”. Iklan mi instan X ini dibintangi oleh seorang gadis cantik yang memang sudah beberapa kali muncul di produk yang sama. Namun, saya tidak akan membahas mengenai bintang iklannya yang memang cantik nian ini. Yang akan saya bahas adalah mengenai konten dari mi instan X ini.

Dalam iklan mi instan X ini si bintang iklan menyebutkan beberapa kandungan gizi yang (mungkin) terkandung dalam mi instan X tersebut. Dia menyebutkan bahwa si mi instan X ini kandungan gizinya (saya lupa vitamin atau protein) setara dengan (klo tidak salah sih) 7 gelas susu, dan beberapa gelas bayam (saya lupa persisnya). Hm… bergizi sekali keliatannya mi instan ini bila kandungan gizinya sama seperti yang disebutkan oleh sang bintang iklan.

Namun pertanyaannya sekarang, apa iya si mi instan X ini sebegitu bergizinya?? Yang saya tahu sih mi instan itu tidak lebih baik dari junk food (mungkin lebih baik junk food–yang notabene banyak sekali mengandung lemak–daripada mi instan). Apabila ditilik dari sisi bahan bakunya (dimana bahan baku pembuat mi instan dan mi-mi lainnya yang utama adalah tepung yang terbuat dari gandum), memang mungkin saja terdapat kandungan gizi dalam mi instan tersebut dari bahan gandumnya. Namun, tidak serta merta juga dapat di klaim terdapat kandungan gizi yang berlimpah dalam mi tersebut, karena dalam proses pembuatannya mi tersebut pastilah dicampur dengan bahan-bahan kimia lainnya, seperti bahan pengawet makanan misalnya. Agar dapat bertahan lama saat diperjual-belikan pastilah mi instan ini diberi bahan pengawet makanan. Seperti yang kita tahu bahan pengawet makanan adalah salah satu bahan kimia yang tidak baik jika dikonsumsi oleh tubuh kita, jadi bukannya bergizi malahan bisa berbahaya bagi tubuh kita.

Belum lagi bumbu-bumbunya, kita tidak tau persis apa saja campuran bumbu-bumbu yang terdapat dalam mi instan tersebut. Salah satu bahan yang ada dalam bumbu mi instan adalah Monosodium Glutamate (MSG) yang notabene juga tidak baik bagi kesehatan, apalagi dikonsumsi dalam jumlah banyak. Lagi-lagi fakta yang membuktikan bahwa mi instan sebenarnya tidak bagus-bagus amat untuk dikonsumsi.

Nah hal-hal ini lah yang membuat saya tergelitik dan agak terheran-heran (campur geleng-geleng kepala) melihat iklan mi insatn X ini. Di iklannya, mi instan X ini terlihat seolah-olah sangat bergizi sekali. Padahal dalam kenyataannya sepertinya tidak begitu, mungkin malahan sebaliknya tidak bergizi sama sekali (mungkin).

Saya tidak tahu persis darimana dasarnya si produsen mi instan X ini mengklaim bahwa produk mi instan buatannya mempunyai kandungan gizi sefantastis yang disebutkan. Apakah memang sudah benar-benar diuji di laboratorium dan memang benar-benar mengandung kandungan gizi seperti yang disebutkan, ataukah hanya kata-kata pemanis saja agar produknya laku dipasaran? 

Ya, seperti yang kita tahu memang kadang-kadang para produsen suka terlalu berlebihan dalam rangka mengiklankan atau mempromosikan produk-produknya. Kata-kata manis, janji-janji muluk, dan bahasa hiperbolis selalu menjadi bumbu penyedap dalam suatu iklan. Itu semua memang dilakukan untuk dapat menarik konsumen agar produk mereka bisa laku dipasaran, itulah tujuan utama dari iklan. Namun, seyogayanya iklan juga jangan terlalu berlebihan dan terlalu jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Apabila terlalu berlebihan dan tidak sesuai kenyataan nanti bisa-bisa iklan tersebut malahan menjadi iklan yang menyesatkan dan membohongi publik.

Oleh sebab itu, kita sebagai konsumen harus lebih teliti dan pintar dalam memilih suatu produk yang akan kita konsumsi atau kita gunakan. Jangan terlalu “termakan” dan terbuai oleh iklan, karena mungkin saja apa yang dikatakan oleh iklan itu tidak sepenuhnya benar. Namun, jangan terlalu antipati juga. 

Tulisan ini saya buat bukan untuk memojokkan, menjelek-jelekkan atu menjudge suatu produk ataupun dunia periklanan. Namun semata-mata hanya sebuah unek-unek saja dan sedikit ajakan pada masyarakat agar lebih teliti dan pintar baik dalam menyikapi suatu iklan maupun dalam memilih suatu produk yang ditawarkan oleh iklan.

 

Advertisements